Home Pabrik Gula Aren
PDF Print E-mail

Pabrik ini menghasilkan berbagai jenis produk. Untuk tahap awal akan dikonsentrasi pada tiga jenis gula. Pertama gula semut, karena harga ekspor tertinggi, baru gula merah cetak, baru gula kristal Aren mas. Khusus untuk produksi gula kristal aren murni melalui proses modern di pabrik ini, merupakan yang pertama kali di dunia.

 

Hasil sampingan pabrik adalah pati, ragi, dan molasses. Molasses dijadikan lagi ethanol, minuman obat, rum, kecap, makanan ternak, medium jamur, kompos, dll. Sehingga sama sekali tidak ada sisa produksi atau sampah dari pabrik ini. Proses pembuatan gula sendiri pula sama sekali tanpa menggunakan bahan kimia seperti di proses gula tebu.

Dalam produksi gula Aren digunakan uap sisah turbin uap, yang harus dikondensasikan menjadi cairan sebelum disuntik kembali ke tanah untuk menjadi uap geothermal baru. Uap ini yang masih panas dijadikan sumber energi proses gula aren. Listrikpun dalam waktu dekat akan diproduksi dari uap sisah, sehingga beban lingkungan hidup pabrik ini minimal, sedangkan dengan petani tidak lagi memotong kayu untuk masak gula sendiri atau untuk destilasi miras, maka justru pohon dan lingkungan hidup selamat.
Untuk produksi saat ini dengan satu shift karyawan, dapat dihasilkan 3 ton gula per hari yang berasal dari sekitar 26.000 liter nira segar per hari. Sebenarnya persediaan nira di Tomohon masih jauh lebih besar. Untuk dapat menampung produksi yang jauh lebih besar pabriknya akan diperluas dengan dana dari Menkokesra, sehingga produksi pabrik akan mendekati 15 ton per hari dan lebih dari 10.000 lapangan kerja baru akan tercipta.
Untuk produksi ke depan, telah dimulai program penanaman aren unggul oleh Yayasan Masarang sehingga di masa depan produksi akan meningkat terus. Panas bumi masih ada di banyak tempat lain di Sulut dan di Indonesia sehingga model yang ada saat ini bisa dikembangkan secara langsung di banyak daerah lain di Indonesia.
Produksi pabrik akan dijual melalui sistem fair trade di Europa (produk yang menguntungkan masyarakat yang memproduksikan produk secara demokratis, serta ramah lingkungan hidup) dengan harga jual FOS Indonesia 20.000 Rupiah per kilo. Setelah dijual di luar negeri masih akan diberi setengah keuntungan kepada petani, masing-masing sesuai kontribusi produksi gula yang bersangkutan kepada pabrik (Profit sharing system). Produksi lain akan dikirim ke Jepang dan Amerika dalam penjajakan.

Last Updated on Tuesday, 28 July 2009 18:31
 
Anda Pengunjung Ke:
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter